Showing posts with label Q and A. Show all posts
Showing posts with label Q and A. Show all posts

Tuesday, August 11, 2009

Agar jiwa dan potensi kami besar, apa yang harus kami lakukan?

Soal :
Agar jiwa dan potensi kami besar, apa yang harus kami lakukan?

Jawab :
Imam Ali bin Abi Thalib as berkata kepada Hammam:
“Manakala Allah Swt Yang Mahaagung berada dalam jiwa-jiwa mereka, maka selain Allah, bagaimanapun dia, adalah tak berarti di hadapan mereka.”

Di permukaan bumi, satu hektar bagi kita adalah besar dan luas. Namun bila kita naik pesawat, semakin tinggi terbang pesawat, semakin kecil pula bidang tanah itu di mata kita.

Jika kita melirik uang-uang yang ada di bank, maka saldo yang kita miliki tidak ada apa-apanya. Jika kita cermati ucapan tasbih seluruh makhluk, maka kita pandang zikir subhanallah yang kita baca cuma beberapa kali tidaklah berarti. Apabila kita melihat perpustakaan-perpustakaan besar dan penting di dunia, maka telaah hanya beberapa buku tidak akan memuaskan diri kita.

Ketika Imam Ali bin Husain as ditanya, “Mengapa Anda beribadah sampai sedemikian rupa?”

Beliau menjawab, “Ibadahku tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan ibadahnya Ali bin Abi Thalib!”

Dalam al-Quran Allah Swt berfirman kepada Nabi-Nya, “Ingatlah ujian-ujian yang dialami para nabi terdahulu, agar ujian-ujian yang akan engkau alami menjadi ringan.”

Dengan menoleh ke belakang dan memperhatikan langkah yang sudah lewat kerap membuat kita terperdaya. Tapi tolehan ke belakang dan perhatian pada langkah-langkah yang ditempuh para pendahulu sebagai pengalaman dan pelajaran juga sangat berharga untuk membangun kemajuan kita kini dan selanjutnya. Intinya, kita harus berkonsentrasi ke arah masa depan kita, memikirkan setiap langkah ke arah kemajuan kita kini dan esok. []

Monday, August 10, 2009

Apa yang Harus kita perbuat agar kita dapat hidup bahagia?

Soal :
Apa yang Harus kita perbuat agar kita dapat hidup bahagia?

Jawab :
“(Kami jelaskan yg demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu”

Jadilah Anda sebagai orang yang apabila kehilangan sesuatu, tidak larut dalam kesedihan! Begitu pula, ketika diberi sesuatu, Anda tidak perlu terlampau senang atas yang diterima itu! Oleh karena itu, bagi manusia yang bijak, apakah kemudian berpengaruh suatu pemberian atau penerimaan itu pada dirinya?

Seorang pegawai bank, pada satu hari, menerima uang dari penyetor, dan di hari yang lain menyerahkan uang kepada nasabah yang mengambil uang. Di hari pertama itu, ia tidak merasa gembira karena menerima uang. Dan pada hari kedua saat menyerahkan uang, ia pun tidak merasa sedih. Mengapa? Karena ia tahu betul bahwa apa yang dilakukan pada dua hari tersebut, baik menerima maupun menyerahkan uang, tidak lebih dari (tugas) menunaikan pekerjaan (amanat).

Contoh yang lain:
Bergerak terus di tanah atau tidak, boleh dikata, sama saja bagi ban traktor, (karena bahan ban traktor begitu kuat, tebal, dan keras, sehingga pengaruh gesekan pada tanah hampir tidak berpengaruh kecuali dalam waktu yang sangat lama, bertahun-tahun). Namun tidak demikian yang terjadi pada ban sepeda. Gesekan yang terjadi karena sering dipakai akan lebih cepat menipiskannya dalam waktu yang tidak lama.

Duduk dan berdirinya seekor burung pipit di atas ranting bunga berpengaruh pada ranting (yakni, ranting bergoyang, atau mungkin bisa patah). Tetapi tumpuan burung pipit itu tidak akan membawa pengaruh apa-apa ketika ia hinggap di atas dahan utama pohon besar.

Jadi, seorang dikatakan sebagai orang besar ialah karena ia berjiwa besar, yang apabila datang masalah-masalah kecil menerpa, sama sekali tidak berpengaruh pada ketenangan jiwanya. Thank’s

Thursday, August 6, 2009

Bagaimana kita menghadapi insting atau naluri seksual?

Soal :
Bagaimana kita menghadapi insting atau naluri seksual?

Jawab :
Allah, Yang Mahabijaksana, menempatkan insting atau naluri tersebut pada diri manusia. Karena itu, kita tidak perlu melumpuhkan atau membunuhnya, tetapi harus mengontrol dan mengarahkannya. Keberadaan insting seksual itu merupakan kemestian untuk pemeliharaan, kesinambungan dan penyempurnaan generasi manusia. Seandainya tak ada perut, manusia akan mati kelaparan. Kalau saja emosi tidak ada, manusia tidak akan melakukan pertahanan dan pembelaan diri. Andaikata syahwat tidak ada, maka terputuslah generasi manusia.

Dan jangan lupa, untuk memenuhi naluri ini haruslah dilakukan melalui jalan yang benar. Sebab, insting-insting ini bagaikan tabung gas, yang apabila masuk ke kompor gas dengan benar, dapat menghasilkan panas yang cukup dan berguna untuk memanaskan dan memasak makanan. Tapi bila tanpa kendali, tabung gas bisa meledak dan berbahaya.

Bersolek bagi wanita adalah kecenderungan. Kecenderungan ini, apabila dilakukan di dalam rumah, akan menjadikan hidup bermasyarakat ini manis dan penuh kasih sayang. Namun jika bersolek itu dilakukan di luar rumah, di jalan, di pasar, akan menjadi penyebab gonjang-ganjingnya keluarga-keluarga yang lain. Seorang lelaki yang melihat wanita bersolek di jalan-jalan, ketika pulang ke rumah boleh jadi akan berkurang menunjukkan rasa cinta terhadap istrinya. Sebab fenomena di jalan telah mencabik-cabik rasa cintanya terhadap sang istri.

Di samping itu, keadaan seperti ini dapat menguatkan gejolak liar dalam dada kaum bujang. Ia ibarat api yang disiram bahan bakar yang akan melahap setiap benda di dekatnya. Atau, ia dapat menyeret pada pikiran menyimpang dan niat buruk. Dan akibat selanjutnya, timbul dampak-dampak buruk di masyarakat, seperti lari dari rumah, intimidasi, bunuh diri, penyakit kelamin, penyakit psikologis, dan anak-anak jalanan/terlantar.

Tuesday, August 4, 2009

Mengapa sebagian doa tidak dikabulkan?

Soal:
Mengapa sebagian doa tidak dikabulkan?

Jawab:
Jika kita mengisi tangki bahan bakar pesawat terbang dengan bensin biasa atau air sebagai ganti bahan bakar khususnya, maka pasti pesawat tersebut tidak bisa tinggal landas, apalagi terbang. Doa orang-orang tertentu dikabulkan Tuhan karena di dalam perut mereka tidak ada sesuap makanan pun yang haram. Mereka menjaga kehalalan dan kesucian apa saja yang masuk ke dalam tubuhnya.

Sebagaimana yang diterangkan dalam hadis, “Barangsiapa ingin doanya diperkenankan hendaklah ia sucikan dan halalkan pendapatannya.”

Marilah kita renungkan! Bukankah berdoa berarti memohon kebaikan? Seringkali, dari keinginan-keinginan di mana kita begitu berhasrat untuk mewujudkannya itu tidak termasuk kebaikan. Tetapi kita beranggapan, bahwa apa yang kita inginkan tersebut sebagai kebaikan, lalu kita meminta kepada Tuhan untuk mengabulkannya.

Friday, July 31, 2009

Mengapa kita khawatir dan takut mati?

Soal:
Mengapa kita khawatir dan takut mati?
Jawab:
Ketika seorang pengemudi merasa geliash dan khawatir di tengah ia menempuh perjalanan, penyebabnya mungkin ada beberapa hal, seperti: kehabisan bensin, dirampok, atau ditambahnya beban angkutan. Penyebab kekhawatiran lain mungkin karena pengemudi-pengemudi yang lain melaju lebih cepat sehingga ia tertinggal, atau tersesat di jalan. Atau mungkin juga, sesampai di tujuan, ia merasa tidak tersedia tempat untuknya. Atau, orang-orang yang satu perjalanan dengannya adalah ahli maksiat.

Kalau saja seseorang membawa bekal yang lazim (baca: kebajikan) untuk kehidupan setelah kematiannya, ia tidak perlu merasa khawatir dan takut menghadapi kematian. Seseorang yang menjalani kehidupan secara benar tanpa melakukan pelanggaran atau penyimpangan. Ia mengetahui jalan-jalan dan hanya memilih jalan yang lurus. Ia mengincar suatu tempat tertentu setelah tiba di akhir perjalanannya. Ia bergaul dengan orang-orang saleh, sehingga langkah kakinya sesuai jalur dan ketentuan kebenaran. Maka –jika memang demikian adanya- untuk apa lagi ia merasa khawatir dan takut?

Thursday, July 30, 2009

Apakah pahala sepuluh kali lipat itu berlaku untuk setiap perbuatan yang baik?

Soal:
Apakah pahala sepuluh kali lipat itu berlaku untuk setiap perbuatan yang baik?

Jawab:
Al-Quran mengatakan, “man jâ-a bil hasanah falahû ‘asyru amtsâlihâ”, Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.

Siapa saja membawa amal kebaikan atau amal hasan atau kebajikan, maka pahalanya sepuluh kali lipat. Yang terpenting adalah “membawa” kebaikan atau kebajikan itu hingga hari kiamat tiba, bukan sekedar pada saat “melakukan”nya di dunia.

Bekerja untuk sesama, atau mengantarkan suatu bangsa pada tujuan kemaslahatan, tentu saja bernilai tinggi dan luhur. Tetapi jika kemudian di tengah jalan pekerjaan mulia tersebut kita binasakan dengan perilaku menyimpang, maka kita tidak akan mendapatkan nilai apa-apa. Banyak sekali amal yang tampak luarnya baik, tetapi mengalami kehancuran dan tidak sampai pada tujuan.

Barangkali, sejak awal kita melakukan perbuatan tertentu dengan riya’, tidak dengan niat dan tujuan suci (mendekatkan diri kepada Allah Swt). Atau, melakukan amal yang pada awalnya dengan niat tulus, tapi kita merasa angkuh dan bangga diri. Atau setelah beramal, kita berbuat dosa yang dampaknya menghapus amal bail yang telah kita kerjakan. Maka, meskipun untuk tiga hal tersebut di atas kita melakukan amal yang baik, tetapi tetap saja kita tidak akan sampai pada tujuan.

Oleh karena itu, al-Quran tidak mengatakan, “Barangsiapa melakukan amal kebajikan maka pahalanya sepuluh kali lipat” tetapi mengatakan, “Barangsiapa membawa amal kebajikan (sampai akhir hayat), maka baginya pahala sepuluh kali lipat”.

Man jâ-a bil hasanah
= Barangsiapa membawa amal yang baik.

Wednesday, July 29, 2009

Apakah Tuhan Membutuhkan Ibadah Kita?

Soal :
Tuhan memerintahkan kita mengerjakan shalat. Dalam shalat pun kita harus menghadap Ka'bah. Apakah itu berarti bahwa Tuhan membutuhkan ibadah kita?

Jawab :
Seandainya seluruh manusia membangun rumah dengan tata letak sedemikian rupa agar menghadap ke arah matahari untuk memperoleh porsi tertentu dari cahayanya, maka hal itu tidak akan menambah apapun pada matahari. Atau, andaikata semua manusia membangun rumah dengan model membelakangi matahari, itu pun tidak akan mengurangi sedikitpun dari matahari. Faktanya, matahari tetap bersinar setiap hari tanpa membutuhkan apapun dari inisiatif dan perbuatan manusia. Tetapi bagi manusia yang sadar akan kebutuhannya terhadap sinar matahari, serta zat-zat yang diperlukan tubuh, maka dia akan mengupayakan diri sedemikian rupa untuk membangun rumah dengan posisi tertentu yang berhadapan dengan matahari, demi memperoleh manfaat sinarnya.

Allah Swt Yang Mahakaya, menyuruh kita shalat dan beribadah kepada-Nya, tanpa sedikitpun memerlukan ibadah kita itu. Tetapi, ketika kita meyakini bahwa perintah shalat dan menghadap Ka'bah itu keluar dari Yang Mahabijaksana dan Mahakaya, pastilah ada manfaat yang kita peroleh dari setiap kali melakukan perintah itu.

Manusia tentu akan mendapatkan karunia dan nikmat tertentu apabila dia mau beribadah kepada-Nya. Sebab, setiap perintah Yang Mahabijaksana pasti akan mengisi setiap celah kekurangan dalam diri manusia. Hanya dengan melakukan shalat dan beribadah kepada-Nya itulah manusia bisa menjadi sempurna.
Al-Quran mengatakan, "Jika kamu dan siapa pun yang ada di muka bumi ini seluruhnya nengingkari (nikmat Allah), maka itu semua tidak akan berpengaruh sedikitpun pada Allah. Sebab, Dia Mahakaya bagi seluruh ciptaannya." dan "Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji." []

Tuesday, July 28, 2009

Mengapa Tuhan Mencipta?

Soal:
Mengapa Tuhan mencipta? Mengapa Tuhan menciptakan semua keberadaan ini, termasuk manusia?

Jawab:
Ketika ada seorang berilmu dan fasih berbicara mengomentari suatu masalah dengan cara tertentu, sebagian orang mempertanyakan, "Mengapa Anda berbicara dan berkomentar seperti itu?" Padahal, tentu saja, komentar dan pandangan ilmiah yang dilontarkan orang tersebut keluar berlatar belakang tuntutan ilmu dan kefasihan yang dimilikinya. Tapi sebaliknya, apabila orang berilmu dan fasih tersebut -dengan segala kesempurnaan ilmu dan kefasihan yang dimilikinya- tidak memberi komentar apapun terhadap suatu peristiwa tertentu dan memilih menyembunyikan pendangannya, dia pun akan dipersoalkan, "Mengapa Anda tidak berbicara atau berkomentar (tentang hal itu)?"

Allah Yang Mahakuasa, Mahabijaksana, dan Mahapenyayang mampu menciptakan galaksi, matahari, dan planet-planet. Dia juga mampu menciptakan gandum dari tanah, sperma dari gandum atau padi, dan juga menciptakan manusia dengan tahapan-tahapan yang menakjubkan, dari sperma, embrio, janin, dan seterusnya, hingga wujud sempurna. Maka justru menjadi pertanyaan besar jika Dia tidak mencipta. Orang-orang tentu akan bertanya, "Mengapa Engkau, ya Tuhan, Yang Mahakuasa dan Bijaksana, tidak memanfaatkan kekuatan dan kesempurnaan-Mu untuk menciptakan ini dan itu?" []